Senin, 04 Maret 2013

Gerhana Yang Engkau Nanti




(Oleh : Ria Sitorus)
Gerhana bulan malam itu
engkau cipta berbait-bait puisi cinta
katamu, itu semua untukku. Tapi sungguhkah?
dalam rotasi komedi putar kita saksikan sebuah gerhana
ya—gerhana bulan, malam itu.

Meski—
aku tahu, engkau juga merindukan gerhana yang lain
ya—gerhana matahari

Gerhana apakah yang sungguh engkau nantikan?

Ria Sitorus, KSI-Medan, Desember 2011


Rebana-ANALISA, Minggu 17 Februari 2013

Kamis, 07 Februari 2013

Perjalanan Malam



Perjalanan Malam
(Oleh : Ria Sitorus)

Katamu; malam di kota ini sangat hitam!
lebih hitam dari bola matamu
yang memesonaku pertama bertemu
ruas jalan hiruk pikuk
hingar-bingar musik disko
di gedung-gedung mewah,
mall
diskotik
hotel
café-café

Malam di kota ini tak serupa malam
di desamu
aku berhenti merindui desau angin
juga derak ranting patah di tengah sunyi
gemerecik air sungai yang pecah di batu-batu
itu takkan pernah kau dapati di kota ini, katamu

Lalu aku pergi,
mencari jejak malam ke desa
‘ku ingin rebah dan istirah
dalam dekap alam syahdu
sejuk udaranya mendekap jiwa
yang tak pernah kudapati di kotamu.
(*)
KSI-Medan, 16 Jan 2013

Kisah Dewi-Dewi
(Oleh : Ria Sitorus)

Tak henti-henti engkau berkisah tentang dewi-dewi
setiap malam mengantarku dalam lena tidur
meski tak pernah percaya
aku enggan tuk menolakmu berkisah

Maaf ayah,
‘ku ingin dengar cerita tentang ibu!
bukan kisah dewi-dewi itu,
bisikku di tengah malam
kala ayah tengah terlelap.
 (*)
KSI-Medan, 16 Jan 2013

Menunggu 126 Hari Lagi
(Oleh : Ria Sitorus)

Tahukah engkau apa yang kulakukan setiap kali senja berlabuh di balik carkrawala
diam-diam aku suka menghitung hari yang kita lewati
telah 16 hari kita tiba di angka 2013 pada tahun masehi di bulan pertama
ada yang perlu kau ingat. 126 hari lagi
kita genap melampaui 1.095 malam

Seperti janjimu—
aku menanti
pelaminan.

Bergegaslah bersiap—
sebelum kematian menghampiri
kita barharap restu dari Ilahi.
(*)
KSI-Medan,  16 Jan 2013

Terbit di ANALISA, Rabu 06 Februari 2013


 

Jumat, 21 Desember 2012

PUISI


Layunya Sehelai Daun di tengah Kota
(Oleh : Ria Sitorus)

Dengan sepasang kaki mungil
aku bertumpu di atas lapisan kulit bumi
sembari menghafal; pada lapisan atmosfer yang mana
lubang hidungku menarik nafas-nafas kehidupan?
diantara stratosfer atau trofosfer?
walau kini lebih banyak kandungan nitrogen dan gas-gas rumah kaca yang menguap di udara
dari lubang-lubang knalpot kenderaan yang memadati setiap ruas jalan di kota-kota besar
dan dari gedung-gedung ber-knalpot raksasa yang kita sebut-sebut pabrik, pusat industri, dan lain-lain. Dan sebagainya, dan sebagainya.
Tak terhitung!
sementara tak terhitung pula seberapa juta batang pohon yang tumbang setiap hari oleh tangan-tangan yang mungkin tak mengerti betapa berharganya sehelai daun merawat usia bumi ini.

Ria Sitorus, KSI-Medan, September 2011

**
PUISI ini telah dipublish pertamakali di Rubrik REBANA, Harian ANALISA-Medan, pada Minggu 09 Desember 2012.

PUISI

Aku, Kau dan Tan Malaka  dalam Sebuah Sajak
(kepada : Adha Imran)
Oleh : Ria Sitorus

Engkau pertemukan aku dengan Tuan kita—Tan Malaka
dalam sebuah sajak berdarah, cerita revolusi di tahun 1945-an
sedang engkau dan aku baru bersua satu kali saja di kota-ku
Medan namanya—sebuah kota bersejarah
kota penuh kenangan

Senja itu engkau datang membawa cerita
dalam bingkai puisi—yang engkau hadiahkan padaku
dan kubuka bingkai itu di bawah pokok asam yang rindang—imajinasi
hendak kubagi pada teman-temanku jua di sana

Agar kelak mereka mengingat nama-mu
dan sejarah Tuan kita—Tan Malaka
pun aku yang mengirimi-mu kembali sajak ini

Ria Sitorus, KSI-Medan, 28 Nov 2012

**
Puisi ini lahir dari imajinasi penulis dan terinspirasi setelah membaca sajak Adha Imran “Sajak Tan Malaka di Jakarta, 1945” di Kotan TEMPO, Minggu 25 November 2012.

NB :
Puisi ini telah terbit pertamakali di Rubrik REBANA-Harian ANALISA-Medan, Minggu 09 Desember 2012.

Jumat, 12 Oktober 2012

Puisi

TU DAMANG-DAINANG
(Poloria Sitorus
)

Damang/Dainang…
adakah angin membisikkan padamu
aku-borumu sedang dalam siksa rindu

mentari perlahan jatuh
di balik gunung-gunung
kutahu Damang/Dainang baru saja naik ke gadu1)
sisa cahaya di dinding langit barat
mengiring langkahmu hingga ke huta2)

ah, Damang/Dainang…
sungguh aku-borumu sedang dalam siksa rindu
maaf..langkahku tertambat aral
seribu rintang merentang
aku tak bisa cepat pulang
memasakkan air hangat
pelepas lelahmu sepulang dari juma3)

oh, Damang/Dainang…
sungguh aku-borumu sedang dalam siksa rindu

Note :
*Damang/Dainang : sebutan Ayah/Ibu dalam Bhs.Batak Toba: 1) Pematang sawah, 2) Kampung, 3) Sawah
KSI-Medan, penghujung Maret 2012

Tao Toba Nauli
(Oleh : Poloria Sitorus)

 
Oh, Tao Toba nauli
rinduku menggelora padamu
mencium aroma biru harummu
merasakan nikmat sejuk pelukmu
batu-batu di tepian Tao Toba
rindu kakiku menjejakmu
turun dari kapal-menyeberang
dari Ajibata menuju Tuktuk Siadong

oh, Tao Toba nauli..
rindu "ku duduk di pangkuanmu
senandungkan andung-andung
*o, Tano Batak
sai naeng hutatap
dapothonokku
tano hagodangakki
o, Tano Batak
andigan sahat
au on naeng mian di ho, sambulokki

ah, Tao Toba nauli..
masih adakah di rahimmu
ribuan suro1) ni Ihan Batak,
dengke, jahir, dan pora-pora
ataukah itu hanya tinggal cerita lalu?
oh, Tao Toba nauli
adakah parasmu masih seindah dulu?

Note : 1)bibit ikan: *Lirik lagu daerah "O Tano Batak"
KSI-Medan, penghujung Maret 2012






Harian Analisa, 13 Juni 2012
Sumber : http://www.analisadaily.com/news/read/2012/06/13/56245/tu_damangdainang/#.UHe8iXL4yqA

Minggu, 02 September 2012

Membaca Kenangan


Kembali aku—
membaca kenangan
di antara rotasi bumi dan matahari.

(Ria Sitorus)
Minggu, 02 Sept 2012 (13.59)

Senin, 27 Agustus 2012

Akulah Angin---Engkaulah Api

Setiap utas rambutku telah berubah
menjadi syair dan ghazal
berkat cinta-MU.

(D-2329)
Jalaluddin Rumi