Jumat, 09 September 2011

Tarian Luka Malam ini

Tarian Luka Malam ini
 (Untuk~mu..)

Malam ini kota hatiku begitu sepi
tanpa sapa darimu
apakah angin mengingkari janji
‘tuk sampaikan pesan rinduku padamu?
atau mungkinkah hatimu kini
yang tak lagi mampu menerjemahkan rinduku?

_Ria Sitorus_
Jumat, 09 Sept 2011

Rabu, 07 September 2011

Hukumanku


Hukumanku
(Oleh : Poloria Sitorus)

Dengan apa ‘ku harus menghukum diri
Bagaimana ‘ku harus mencambuk diri
Agar semuanya bisa berakhir disini
Dan takkan pernah terulang lagi
            ‘Tuk mencatat kisah tragedi
            Kekalahan kegagalan ‘tuk kesekian kali
Tak cukup dengan gerimis air mata
Dengan seribu sesal sesat tak bermakna
Atau dengan jeritan dan rintihan jiwa
Yang setiap saat memberontak meronta
di dalam dada
            Aku akan bangkit
            Berjuang meraih asa
            Yang masih tersisa

Oleh : Poloria Sitorus
Medan, 07 Juli 2007 (01.05wib)
(diedit kembali, Kamis 17 Maret 2011/20.28wib)

Senin, 29 Agustus 2011

Cecilia dan Malaikat Ariel (Sebuah Novel Filsafat Yang Memukau)

Judul novel : Cecilia & Malaikat Ariel
Pengarang : Jostein Gaarder
Penerjemah : Andytias Prabantoro
Penerbit : Mizan Pustaka, Desember 2008
Tebal: 211 halaman

Jostein Gaarder awalnya sukses dengan novel filsafatnya, Dunia Sophie. Edisi terjemahannya yang pertama terbit Oktober 1996 (Mizan) dan pada November 2006 telah mencapai cetakan XVIII.

Buku yang pertama terbit dalam bahasa Norwegia berjudul Sofie's Verden pada 1991 dan hingga kini telah diterjemahkan ke dalam 53 bahasa, serta sudah terjual 30 juta kopi. Pada 1995, novel ini menduduki posisi pertama dalam daftar best seller dunia mengalahkan The Celestine Phrophecy karya James Redfield yang konon telah mengubah hidup banyak orang.

Setelah sukses Dunia Sophie, Mizan menerbitkan terjemahan karya Jostein Gaarder, mulai dengan Gadis Jeruk (2005), Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng (2006), Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, Maya (2008), dan Cecilia dan Malaikat Ariel (Desember 2008). Dari keenam buku itu, hanya Dunia Sophie (561 halaman) dan Maya (458 halaman) yang punya ketebalan cukup, sedangkan yang lain tiga ratusan halaman atau kurang.

Jika Dunia Sophie mencoba membeberkan sejarah filsafat dengan cara yang sederhana, Maya mempersoalkan terjadinya alam semesta dan penciptaan manusia, apakah keberadaan kita di muka bumi ini kebetulan atau punya tujuan tertentu.

Cecilia dan Malaikat Ariel masih berkutat tentang filsafat adanya dunia dan surga, antara manusia dan malaikat, dan mempertemukan dua makhluk ciptaan Tuhan itu untuk berdialog membuka rahasia masing-masing. Tuhan menciptakan manusia dari elemen-elemen yang ada di bumi, yang bisa tumbuh dan akhirnya mati, sedangkan malaikat diciptakan dari unsur yang berbeda sehingga mereka tak punya indra, tak tumbuh, juga tak mati. Seperti Dunia Sophie, Jostein Gaarder memilih tokoh gadis muda Cecilia sebagai medium pemikirannya tentang manusia, malaikat, dan Tuhan.

Ketika mula-mula diciptakan, Adam dan Hawa sebagaimana penghuni surga adalah anak-anak yang tak tumbuh sehingga tak bisa mati. Tapi, setan dengan segala tipu daya membujuk Adam dan Hawa untuk memakan buah larangan, yang menghidupkan pancaindra mereka dan jadilah mereka sebagaimana manusia sekarang yang tumbuh serta akhirnya harus meninggalkan surga.

Dialog antara Cecilia Skotbu, gadis belia berambut panjang yang sedang terbaring sakit, dengan malaikat Ariel, yang datang berkunjung dan menghiburnya, sangat menarik dan sering mengejutkan. Sejumlah hal kecil yang tak terbayangkan dan menjadi persoalan, justru muncul ke permukaan dan dibicarakan bersama.

Malaikat Ariel tampaknya turun ke bumi untuk mencari tahu rahasia kehidupan manusia, bagaimana rasanya menjadi manusia, yang tentu saja tak mampu dilakoninya tetapi dicoba untuk dipahaminya. Demikian pula Cecilia Skotbu yang sedang terbaring sakit pada hari Natal juga berusaha memahami kehidupan malaikat dan bertanya tentang kehidupan di surga.

Cecilia menuliskan semua kesimpulan pertemuannya dengan Ariel dalam Diari Cina, buku catatan pribadi Cecilia Skotbu yang merupakan inti kisah ini Misalnya pada hal 67-68 dia menulis: "Setiap detik, bayi-bayi baru muncul dari lengan 'Jas Tuhan', sim salabim! Setiap detik pula, ada orang-orang yang menghilang. Mantra 'Keluar' terucap, maka kau pun harus keluar. Bukan kita yang datang ke dunia. Dunialah yang datang kepada kita. Terlahir sama artinya dengan dianugerahi seluruh dunia ini. Kadang-kadang, Tuhan hanya berkata, Aku tahu, banyak hal bisa dibikin berbeda, tetapi semua sudah terjadi, dan Aku sudah berbuat sebisa-Ku."

Dialog antara Cecilia dan Ariel mengungkap rahasia bumi, manusia, surga, dan Tuhan. Karena malaikat tidak punya pancaindra, dia tidak melihat dan mendengar seperti halnya manusia. Malaikat menerima kata-kata secara langsung dengan merasakannya. Ariel memberi contoh orang buta-tuli yang melihat dan mendengar dengan hatinya. Tentang rahasia manusia dan bumi, Ariel mengatakan, "Aku tidak tahu rasanya punya badan dari darah dan daging. Aku tidak tahu rasanya tumbuh. Aku tidak tahu rasanya makan, kedinginan, dan bermimpi indah."

Nasib Cecilia dapat diduga pada halaman 73, yang dipahami sebagai foreshadowing untuk apa yang akan terjadi kelak di akhir cerita. Teknik ini dipakai dalam prosa fiksi untuk mempertanggungjawabkan apa yang nantinya diceritakan, sehingga pengarang tak dianggap ngibul karena bercerita sesuka hatinya. Dialog dengan Ariel sebagai berikut:

"Terakhir kali aku bertugas sebagai malaikat pendamping adalah di Jerman, lebih dari seratus tahun lalu."
"Siapa yang kau dampingi saat itu?"
"Nama anak itu Albert dan dia benar-benar sakit keras."
"Akhirnya, bagaimana keadaannya?"
"Sayangnya tidak terlalu baik. Karena itulah, aku ada di sana."
"Tentunya kau tidak berkunjung hanya ketika keadaan buruk, kan?"

Tentang kebesaran Tuhan, Gaarder menulis: "Setiap mata adalah sekeping kecil misteri Ilahi? Penglihatan adalah pertemuan antara benda dan pikiran. Dialah gerbang agung antara matahari dan pikiran. Mata manusia adalah cermin tempat sisi kreatif dari kesadaran Tuhan bertemu muka dengan diri-Nya sendiri dalam ranah ciptaan..."

Tentang kematian, Cecilia menulis catatan yang indah: "Saat ajal menjemputku nanti, untaian mutiara halus keperakan akan terberai dan butir-butir mutiara akan terserak, bergulir melintasi negeri ini, dan berlari pulang ke ibu-ibu mereka, tiram-tiram di dasar laut?"

Novel ini juga bicara soal otak dan cara kerjanya, tentang saraf, serta rahasia tubuh kita dan rahasia dunia ini. Benar-benar memukau pembaca yang mau berpikir tentang berbagai kemungkinan yang telah ditanggung oleh manusia.



Sumber : http://www.goodreads.com/topic/show/124731-cecilia-malaikat-ariel-kisah-indah-dialog-surga-dan-bumi

Saya salah satu pecinta karya-karya Jostein Gaarder (~_~)

Sabtu, 12 Februari 2011

~Surat Untuk Sahabatku (yang dulu..)~


Untuk Sahabatku; Vee..

~Surat Untuk Sahabatku (yang dulu..)~
; Yang Kini Telah "Jauh..!"

“Aku sangat memohon maaf thdp~mu, Vee, sahabatku.. atas kelancanganku menulis surat ini dan atas semua sikapku yang seolah mjdi sangat egois thdp~mu. Tapi sesungguhnya jauh di dlm diriku, entah di palung hati yang mana aku mengutuk diri sendiri. Aku merasa sudah tidak berarti apa-apa lagi…Sebab aku telah mjdi gagal membina indahnya kolam kasih yang kucita-citakan sendiri, dlm setiap jalinan persahabatan yang kubangun di rumahrasa-ku. Bagai seonggok kayu yg siap terbakar dgn bara api, dan hanya akan menjadi abu—takkan mampu lagi bahkan mjdi arang sekalipun, yg mungkin masih dpt dipergunakan dikemudian harinya..”

Sahabatku, engkau lihat aku pura-pura tegar, seolah tidak terlalu memikirkan masalah yg bergejolak diantara kita saat ini.. Sementara di sisi lain, aku mungkin mjdi pihak yg sangat tertekan bhatin dalam hal ini. Tapi sekali lagi, kalau mmg menurut~mu, persahabatan kita yg dulu pernah mengalir hangat (yang kini telah membeku)..tidak mungkin lagi kita cairkan untuk mengaliri sungai kasih yang kian mengering diantara dua pribadi sahabat, dan kalau tidak mungkin lagi utk saling memperbiki diri…
Maka harapanku mungkin sia-sia, walau naluri berkata jujur untuk tetap mengalirkan kasih itu..!


Semoga, langit masih sudi turunkan hujan 'tuk mengaliri "sungai kita" yang kian mengering. Agar tumbuh teratai indah yang mampu menyejukkan hati kita..

dariku ; sahabatmu,
yang selalu setia menunggu hadirmu disini, di rumahrasa-ku
"R!@~Sitorus"


Kamis, 03 Februari 2011

Teks Lagu Batak


Lirik lagu Viky Sianipar Serma Dengan Dengan

Serma dengan dengan doding
kontongan aloya
serma dengan dengan doding-doding
kontongan aloya
na suan ma timbaho da boto
dua gantang sadari
na ubah ma parlaho da boto
ulang songon siapari
Serma dengan dengan doding
kontongan aloya
serma dengan dengan doding-doding
kontongan aloya
pisoku do pisomu da boto
piso pambibik tobu
siholhu do siholmu da boto
sihol lao mardomu
dalan hu naranggaol da boto
bahat bona ni pisang
pala-palam argaul da boto
ulangbe na min sirang

Vedio Clip Viky Sianipar Serma Dengan Dengan belum tersedia
Silahkan cek beberapa hari lagi.

Senin, 03 Januari 2011

Puisi Haiku :

Tetes Bening..

Tetes hujan-MU
kirim satu kenangan
'ku bersama-MU

_R!@_01 Jan 2011

Kumpulan Puisi Cinta dalam Aroma Kerinduan



Kumpulan Puisi Cinta dalam Aroma Kerinduan

/1/ Bisikku Padamu

(1)
Pada siapa harus kuberbisik
Rahasia hati kian ingin menjerit
Menahan, mememikik pilu
Bongkahan rindu bergejolak di dada

Di kertas mana kuharus tulis                 
Pengaduan hati yang kian berontak
Di ladang mana harus ‘ku berlari
Hempaskan kaki yang ingin terus
Mengejar bayangmu kasih

(2)
Terhempas tubuh ini,
bagai bayi mugil, suci, polos, tak berdaya
tak jua kau merasa iba dan kasihan ?
tak jua kau mau memungutku ?
Akh.. harapku sia-sia !

(3)
Aku tidak mau gagal
‘Ku tak akan tinggalkan ladang cintamu
Tak’kan ku biarkan orang lain mengusiknya
Biar.. hanya aku penguasa atas ladang cintamu !

(4)
Tak akan menyerah
‘Kan kutanami benih cinta disana
dan takkan lelah cabuti lalang liar
yang menyusup di ladang itu
hingga kita ‘kan memetiknya bersama
aku dan kau dan hanya kita.!!

KSI-Medan, 29 January 2010


/2/ Pembohongan

Aku,
mulai berpura-pura lagi
dengan topeng
kebohongan
demi kau--
lelaki jahanam
yang telah memenjarakan
hatiku seumur hidup!

KSI-Medan, April 2010

/3/ Menziarahi Rindu

Kutaburkan luka
dihamparan waktu
bersama kepingan rindu
untukmu, masih tersisa

kali ini, aku tak lagi berani merinduimu
hanya akan tetap pertahankan
setia cintaku untukmu!

KSI-Medan, April 2010

 /4/ Rindu Hujan

Aku selalu merindukan hujan
bersama abah dan petir
mengantar jeritku pada-Nya
dengan tetes dan tarian hujan
‘ku ingin basahi, hati
kering kerontang

KSI-Medan, Maret 2010






/5/ Jarak Membatu di Relung Jiwa

(1)
Benalu rindu menyiksaku
Takkan surut langkah tertuju
Menunggu waktu
uji setiaku
Menunggu waktu
akan hal itu
Menunggu waktu
percayalah padaku
Menunggu waktu
hadirmu
Menunggu waktu
seutuhnya untukku!

(2)
Secuil goresan rindu dariku
Kutitip dalam peluk Sang Rembulan
Untukmu, kekasih jiwaku!

KSI-Medan, 14 April 2010


/6/ Tanyakan Pada Rembulan

Kekasih..
aku kehabisan kata
torehkan ribuan puisi dari lembaran jiwa
tanyakan saja pada sang rembulan
telah kukirimi dia pesan untukmu

Bahkan air  mata
telah pun mengkristal di pangkuan-Nya
di dalamnya kusematkan cinta,
untukmu jua!

Jika engkau rindu
ingin melukis wajahku
naiki tangga yang kupahat
dari gumpalan-gumpalan awan
engkau akan sampai di pangkuan-Ku
Aku Sang Rembulan

Lalu, biarkan lepas rindumu yang menyengat
berhambur dalam peluk Sang Rembulan
mencumbu nafas cintaku yang membara

KSI-Medan, Maret 2010